Banyak Emosi yang Tak Bisa Diterjemahkan Via Medsos. Manusia Bisa Mati Rasa Jika Teruskan 5 Hal Ini!

Banyak Emosi yang Tak Bisa Diterjemahkan Via Medsos. Manusia Bisa Mati Rasa Jika Teruskan 5 Hal Ini!

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hidup anda sebagai makhluk sosial terdistraksi teknologi. Definisi ‘sosial’ sekarang makin luas. Terutama sejak teknologi internet kian mudah untuk didatangi di pelosok dunia. Dari dusun sampai kota, telah tak terhitung insan yang menjadikan gawai (Bahasa Indonesia dari gadget) guna berkomunikasi sebagai kebutuhan. Kebutuhan yang tak sekadar tersier atau sekunder lagi, namun primer bahkan suatu keharusan.

Satu urusan yang tentu dalam bermunculan dan eksisnya perubahan ialah munculnya dua sisi: baik dan buruk. Sisi baiknya, tidak sedikit pekerjaanmu meman dapat jadi lebih gampang untuk digarap. Lalu, kamu dapat dengan sangat gampang berinteraksi dengan orang beda — meskipun lintas benua. Namun, kelebihan-kelebihan yang dimuliakan itulah yang menciptakan kita lupa bila kemajuan zaman pun melahirkan sisi buruk, khususnya ihwal insan sebagai makhluk sosial.

Mau teknologi secanggih apapun, tak terdapat yang dapat gantikan kekayaan komunikasi lewat tatapan mata. Bahaya pun kalau sekarang insan lebih terbiasa nunduk ke layar, daripada ngobrol dengan rekan sebelah
Banyak yang tak tertangkap kamera

Ada ratusan bahkan ribuan rekan yang anda punya di media sosial, bukan? Kalau tak percaya, Tempatbet55  mau mohon waktu anda buat periksa sendiri jumlah temanmu di media sosial. Bisa sampai paling tidak ratusan ‘kan? Namun yang mesti diri sendiri kritisi ialah seberapa sering anda berinteraksi dengan mereka? Seberapa kenal anda dengan dia?

Pun komunikasi terjadi lewat dunia maya, kualitas komunikasi takkan dapat seberkualitas komunikasi secara riil. Seorang pakar media sosial, John Pavlovitz, menuliskan komunikasi lewat media sosial sebagai cara terendah dalam kasta komunikasi. Saling berinteraksi di media sosial bahkan lebih tidak jarang mengundang perdebatan sebab apa yang kita ucapkan kadang mendapat multitafsir dari sang penerima pesan. Nggak ada keterampilan untuk memahami secara jelas apa yang dikatakan. Sebab anda tak tahu serupa bagaimana intonasi paparan pesan, mimik wajah atau hingga tinggi rendahnya pesan.

Berteman di era media sosial ini memang jadi semudah memencet tombol. Tapi pastikan saja susunan friends-mu bukan sekadar pajangan online dalam hidupmu yang sebetulnya sepi
Banyak friends,

Apakah ada salah satu kamu yang dapat merasakan kehangatan dari suatu hubungan pertemanan atau persahabatan yang secara maya? Rasanya susah deh. Meskipun sekarang berkumpul bareng bukan lagi jadi suatu keutamaan, namun bukankah saya dan anda selalu merindukan untuk dapat benar-benar berkumpul secara nyata dengan teman-teman? Kita dapat saling menikmati sentuhan, kontak mata, berbagi kisah canda dan tawa, bahkan sampai duka.

Sekarang, ketika anda benar-benar terikat oleh hal-hal yang maya, meskipun jumlah teman-teman pada tabel friend list media sosialmu paling banyak, anda malah tidak jarang merasa kesepian sendiri. Berinteraksi di media sosial memang bisa buat kamu tak sempat waktu, namun sesekali, anda pasti akan menikmati kesepian yang susah untuk dibendung. Kamu merasa tidak punya siapa-siapa.

Bentuk apreasiasi dan persetujuan pun kini lebih tidak jarang dinilai dalam jumlah love atau like. Jangan terlena dengan pujian online yang tak dapat kamu nilai sendiri tulus atau tidaknya
Jangan terlena dengan pujian online yang nggak

Apa yang anda temukan di media sosial ketika ini ialah orang-orang berlomba-lomba menemukan like dan love untuk masing-masing momen yang mereka posting. Media sosial tidak saja jadi lokasi berpendapat, berbagi informasi atau berbagi hiburan lagi, tetapi jadi media guna berbagi kebahagiaan yang sedikit-banyak terindikasi pamer diri.

Banyak orang bahkan bilang dapat mendapatkan kebahagiaan saat ada notifikasi yang mengandung orang lain menyenangi apa yang dia artikel di gawainya. Kalau terdapat yang dapat sangat gampang mendapatkan kebahagiaan dengan teknik itu, sungguh malang sekali generasi kita. Standar bahagiannya rendah sekali. Padahal tidak sedikit sekali kebahagiaan yang dapat seseorang dapat saat menjauhkan gawai dari tangannya. Buktinya, insan pra sejarah dapat dengan gampang bahagia melulu dengan mengejar-ngejar buruannya secara berkelompok.

Atau barangkali malah anda sendiri yang sering menyerahkan love dan like pada suatu postingan? Rasa kemanusiaanmu melulu terhenti pada etape simpati, bukan empati
Nggak dapat ngebantu apa-apa hanya like mah

Percaya atau tidak, dunia maya menciptakan kita kehilangan rasa guna berempati. Sikap kita seringkali hanya berhenti pada etape simpati. Dengan teknik apa? Nggak beda dan nggak bukan lewat mengurangi tombol love dan like. Contohnya: bukankah kita tidak jarang sekali menyerahkan like pada sebuah artikel seseorang yang memberitakan adanya ketidakberesan?

“Liking isn’t helping. Be a volunteer. Change a life.” Begitulah kampanye kemanusiaan yang pernah dibuat Crisis Relief Singapore. Menekan tombol like atau love pada Facebook, Twitter atau Instagram nggak akan menolong orang yang kesusahan dalam artikel tersebut menuntaskan masalah. Lebih baik anda ikut turun dan menolong mereka yang malang dengan suatu tindakan yang nyata. Like atau love di media sosial nggak lumayan membantu.

Terlebih lagi saat media sosial jadi distraksi yang meminimalisir keintimanmu dengan orang-orang terkasih. Beneran deh walaupun mendekatkan yang jauh, parahnya malah menjauhkan yang dekat
Padahal orang yang cinta sama anda ada di samping

Sudah berapa kali anda mengacuhkan seseorang melulu karena memilih bermain-main dengan gawai? Dibanding merasakan waktu berbobot | berbobot | berkualitas dengan orang yang anda cintai, anda memilih hendak terlibat dalam riuh ramai yang terjadi secara maya. Semua indera yang terdapat kaku dan melulu terpaku pada urusan yang melulu dikendalikan oleh ujung jemari.

Apa makna cinta andai mengacuhkan pasanganmu yang berkata hanya sebab sesuatu yang maya dalam gadgetmu? Padahal bukankah lebih mengasyikan saat kita memandang warna mata orang yang anda cintai, menyaksikan senyumnya, sampai mendengar suara tawanya? Apalah makna ukuran kehidupan interaksi yang berbobot | berbobot | berkualitas di media sosial dibanding dengan kehidupan di dunia nyata.

Coba anda renungkan sekali lagi. Secara nyata kita sekarang sedang dijajah oleh sesuatu yang maya. Kita diperbudak oleh teknologi yang anda ciptakan sendiri. Kita lupa bila kita ialah makhluk sosial yang tak dapat hidup secara maya. Teknologi menciptakan kita lupa teknik untuk hidup bersebelahan dengan sesama insan seutuhnya.

Bukannya mengajak anda menolak peradaban zaman, namun ada baiknya anda lebih arif lagi dalam menyikapi teknologi yang progresif. Akan terdapat masa di mana anda akhirnya menyadari: geliatmu guna tampil eksis di dunia yang maya ialah hal yang tak begitu berarti. Pasti terdapat masanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *