Bahaya Blue Light Pada Smartphone, Laptop, Pc untuk Kesehatan Mata

Sinar biru smartphones/laptops/PCs yang terlampau tajam dan lama masuk ke dalam mata ditemukan mempercepat dan memperbesar risiko terserang penyakit Age-related Macular Degeneration (AMD) pada orang yang berusia 50 tahun ke atas. AMD menciptakan pusat medan penglihatan terganggu, berdampak penglihatan kian buram atau si penderita akhirnya bisa cepat buta.

Lalu, bagaimana menanggulangi bahaya sinar biru dari devices atau gadgets anda? Ya, kamu dapat menggunakan sunglasses atau kaca mata hitam guna filterisasi UV dan sinar biru dari luar. Smartphones sekarang sudah dilengkapi dengan fitur filter sinar biru yang perlu digiatkan (Settings>Display>Blue Light Filter On). Di samping itu, tidak boleh menggunakan smartphone kamu di lokasi gelap atau di malam hari yang minim cahaya sejumlah jam sebelum jam tidur kamu tiba.

Sedikit lebih jauh mengenai AMD (penyakit degenerasi atau penuaan dan penurunan faedah makula pada manusia lansia) dan terapinya paling perlu diketahui.

 

Kesehatan Mata
Kesehatan Mata

 

MenurutĀ https://828bet.net/ makula ialah suatu unsur kecil sangat sensitif yang berada dekat unsur pusat retina (bagian belakang mata). Makula dibutuhkan untuk orang dapat menyaksikan dengan tajam dan terpusat objek-objek yang berada serupa lurus di depan mata, dan memisahkan cahaya dan objek-objek yang dilihat. Saya butuh beberkan lebih jauh.
AMD terjadi lebih dini andai mata terkena lama dan terus-menerus pada cahaya dengan panjang-gelombang (wavelength) pendek (seperti cahaya biru smartphone) yang merangsang terproduksinya molekul-molekul beracun dalam sel-sel mata yang sensitif cahaya.

Kebanjiran cahaya biru yang terus-menerus tidak dapat ditutup atau dipantulkan pulang oleh lensa dan kornea mata. Akibatnya, banjir cahaya biru tersebut langsung menyasar ke retina dan merusaknya, terutama bagian makula pada retina, sampai-sampai penglihatan memburam, dan meminimalisir tahap demi etape kemampuan-kemampuan lain laksana membaca, menyaksikan jalan, memisahkan warna, dan mengenali wajah.

Kondisi degeneratif penglihatan tersebut terjadi sebab sel-sel yang sensitif cahaya dalam retina yang rusak tersebut akhirnya mati. Dalam situasi mata yang sehat, sel-sel tersebut memerlukan molekul-molekul yang disebut molekul retinal (suatu format vitamin E) guna mempersepsi dan menciduk cahaya dan merangsang sinyal-sinyal penglihatan yang dikirim ke otak, sampai-sampai orang bisa melihat.

Jika mata terkena dalam masa-masa lama dan terus-menerus pada cahaya biru, sel-sel retinal memberi reaksi berantai yang bermuara pada terbentuknya molekul-molekul kimiawi yang beracun dalam sel-sel penerima dan penerus cahaya.

Jika cahaya biru dari smartphone masuk ke sel-sel retinal terus-menerus, sel-sel yang telah terkontaminasi racun ini membunuh sel-sel penerima cahaya saat molekul-molekul penerus sinyal-sinyal penglihatan pada membran plasma rusak.

Ketika telah mati, sel-sel reseptor cahaya ini tidak bakal terbentuk lagi, tak merasakan degenerasi lagi. Sekali bobrok dan mati, ya seterusnya bobrok dan mati. Inilah lika-liku hingga orang menjadi buta sebab penyakit AMD.

Sebetulnya, ada sebuah molekul yang disebut molekul tokoferol alfa (TA;sebuah antioksidan alamiah yang ditemukan dalam mata dan dalam tubuh) yang bermanfaat menghentikan kematian sel-sel. Tapi pada manula, molekul TA tidak berhasil memberi perlindungan apapun pada mereka dan pun pada orang yang sistem imunitas tubuh mereka sudah ditekan.

AMD sekitar ini diobati dengan menginjeksikan obaf Anti-VEGF (“Anti-vascular endothelial growth factor”) ke dalam mata, dalam jangka panjang secara rutin. Di samping itu, AMD bisa ditangani lewat “terapi foto dinamik” yang melibatkan laser “dingin”, pun dengan “bedah laser (panas)”.

Pengobatan AMD lewat injeksi cairan obat Anti-VEGF ke retina di unsur belakang mata mempunyai risiko tinggi infeksi, pun makan masa-masa panjang, dan menghabiskan ongkos besar.

Syukurlah, kesebelasan ilmuwan dari Universitas Birmingham, Inggris, yang berkolaborasi dengan perusahaan farmasi Macregen Inc, sekarang telah nyaris rampung dalam membina sebuah cara baru guna menyembuhkan AMD lewat obat tetes mata. Teknologi “suatu peptide penyusup sel” dipakai sebagai mediator yang akan menyalurkan obat tetes mata Anti-VEGF ke retina guna menyembuhkan AMD, bukan lagi lewat injeksi.

Di musim semi 2019 ujicoba klinis obat tetes mata penyembuh AMD ini bakal dilakukan. Selanjutnya, AMD bisa diobati sendiri dengan aman dan gampang di lokasi tinggal dan dengan ongkos yang ringan./3/

Begitulah seharusnya. Ilmu kedokteran mesti membantu orang sakit, bukan menjadikan orang sakit sebagai objek perahan pabrik-pabrik obat guna mendapatkan deviden sebesar-besarnya.